Ketika aku lewat, aku mencium bau setan di salah satu kamar di rumahku. Aku tahu siapa yang datang. Baunya khas dan dulu pada awal aku mengenali bau itu aku mau muntah. Tiada satu orangpun di rumah yang mencium bau itu. Hanya aku seorang yang dapat mengenalinya. Dia yang menganggap dirinya berkuasa atasku. Dulu dia ada di kamar itu sebelum aku usir. Aku tak sudi melihatnya lagi sebelum dia melepaskan apa yang menjadi sumber keangkuhannya itu. Aku tidak tahan lagi harus hidup di bawah satu atap dengan setan berwujud manusia ini. Setelah dia pergi tidak seorangpun di rumah yang mau berani tidur disitu, termasuk aku.
Aku tahu dia tidak akan pernah berhenti berupaya menggangguku, mempermalukan, menebar fitnah, menghancurkan dan mengambil nyawaku. Sudah 16 tahun hidupku selalu dalam bahaya, bercumbu dengan maut. Dia yang tidak mengenal terima kasih, tidak tahu malu, dan sama sekali tidak beradab. Manusia macam apa yang satu ini yang selalu memesan nyawaku untuk sarapan paginya. Selalu bicara tentang Tuhan dengan kelembutan. Tidak tahu apakah Tuhannya sama dengan Tuhanku, meskipun sama-sama ke gereja.
Saya ingat suatu hari ketika kami sekeluarga berlibur, dia mengatakan bahwa tidak ada kebaikan yang pernah kuperbuat, sehingga nyawaku adalah harga yang pantas untuk itu. Ketika kutanya, tinggal dimana, makan darimana, dan siapa yang membayar biaya rumah sakit ketika dia opname, dia pun terdiam untuk sesaat tetapi kemudian tetap menghasut istri dan anak-anakku bahwa aku manusia yang sangat jahat. Siapa kau yang merasa berhak untuk menilai perbuatanku? Atas hak apa kau hendak mengatur-atur hidupku. Ibukupun tidak pernah mencampuri urusanku.
Dia yang selalu merasa punya anak dan bertingkah seolah-olah ibu yang mengasihi anak dan memberi pagar agar aku jangan meninggalkan istriku. Ibu mana yang menginginkan nyawa suami dan merasuki anak kandungnya sendiri.
Ketika aku hendak memejamkan mata melepas kepenatan, aku merasakan sentuhan-sentuhan dan cumbuan-cumbuan maut yang menyesakkan dada dan mencekik tenggorokanku, sampai tersengal dan sulit bernafas. Akupun terjaga, merenung sejenak lalu beranjak dari kasur dan pergi menghadap monitor komputer dan menulis cerita ini.
Seakan aku mendengar suara lembut pastor muda di Gereja Santa pada tiap jum'at pertama yang melantunkan Doa Pujian Agung sehabis perarakan Sakramen Mahakudus:
Terpujilah Roh Kudus Penolong kita
Terpujilah Roh Kudus Penghibur kita
Dingin sekujur tubuhku............................... Takut juga tapi bukan pada setan. Aku tidak takut pada setan tetapi pada akibat yang mungkin timbul kalau cumbuan maut ternyata membuatku terbuai dan membawaku pada kematian yang romantis.
Seakan aku mendengar suara lembut pastor muda di Gereja Santa pada tiap jum'at pertama yang melantunkan Doa Pujian Agung sehabis perarakan Sakramen Mahakudus:
Terpujilah Roh Kudus Penolong kita
Terpujilah Roh Kudus Penghibur kita
Dingin sekujur tubuhku............................... Takut juga tapi bukan pada setan. Aku tidak takut pada setan tetapi pada akibat yang mungkin timbul kalau cumbuan maut ternyata membuatku terbuai dan membawaku pada kematian yang romantis.
