Minggu, 13 September 2009

Jalan Hidup

Jika Tuhan menginginkan kematianku, dari dulu pasti Tuhan sudah mencabutnya dengan cara-caraNya sendiri dan aku takkan pernah dapat melawannya. Maka apalagikah yang harus kukhawatirkan. Siapakah orang-orang yang merasa dapat mengatur-atur hidupku sesuai dengan keinginannya? Aku tidak mempunyai kekuatan untuk melawannya tetapi aku yakin mereka tidak akan dapat menghabisiku dan hidup akan berlanjut terus.
Sekarang aku harus berkata padamu, perbuat yang kau mau. Aku tidak lagi perduli dengan segala perbuatanmu. Jika sekiranya perbuatanmu membawa manfaat bagimu, kecuali kepuasan batinmu yang tak berharga itu, maka dengan rela kuabdikan hidupku untukmu. Namun apa yang diperdapat. Hanya kesusahan bagiku dan bagimu, bagi keturunan-keturunanmun dan bagi banyak orang yang seharusnya mendapat manfaat dariku.  
Hidup akan berlanjut terus dengan jalannya sendiri. Segala campur tangan yang kau rancang dan yang secara konsisten kau jalankan akan menuju pada kekecewaan bagimu. Pasti ada jalan terbentang dan pada masanya banjir airmata akan meliputi hidupmu yang nista itu. Dan kau setan, akan bertekuk lutut di hadapanku.

Selasa, 08 September 2009

Dapat Hadiah

Bunyi nada untuk SMS membangunkanku Pukul 02.05 tanggal 8/9/09. SMS yang dikirim dari No. +6281998011577 itu berbunyi:
SLMT!!"No. ANDA m-dapat"hadiah Mobil INNOVA, dr Promo"kartu"XLdi'UND'pkl,23,30 tadi mlm di RCTI, Hub:'Call"Hotline, "0817-623816,
pengirim: XL Promo

Enak sekali dimasa-masa krisis seperti ini menang Undian yang tak pernah diharapkan. Tidak jarang ada SMS semacam itu. Terkadang aku jahilin juga. Namun sekali ini lebih baik aku tulis disini aja. Aku yakin banyak nomor lain yang menerima pesan SMS yang serupa.

Minggu, 06 September 2009

Internet

Suatu siang pada awal 2000, saya tidak ingat tanggal persisnya, saya diminta oleh pimpinan saya, melalui sekretaris, untuk menulis sebuah pesan e-mail kepada pimpinan dari perusahaan software terkemuka di Jakarta. Waktu itu saya baru bekerja beberapa hari dalam organisasi tersebut sebagai bagian legal. Nama organisasi itu adalah Masyarakat Anti Hak Cipta dan Pornografi Indonesia (MAPPI).
Sekretaris meminta untuk menyusun draft sudah langsung pada compose pada hotmail dan kalau sudah supaya langsung saja dikirimkan. Sekretaris memberikan kepada saya kartu nama dari Presiden Direktur dan satu direktur yang lain. Saya lalu menuliskan draft dan menyelesaikannya. Pada kolom To (alamat tujuan) saya langsung tulis nama Presiden Direktur dan Direktur perusahaan itu sesuai yang tertulis dalam kartu nama masing-masing. Ternyata kemudian beberapa template hotmail berubah ada banyak warna merah setelah sya klik pada “Send”. Saya tidak mengerti apa yang harus saya lakukan. Perasaan saya, pesan yang dimaksudkan tidak terkirim.
Berhubung tidak mengerti dan agak gengsi bertanya pada orang-orang lain di kantor, saya mengerjakan pekerjaan saya yang lain. Barulah pada waktu mau pulang kerja saya melihat sekretaris, dan sekretaris tersebut bertanya “Sudah jadi dikirim ke Pak Richard, Bang?” Lalu saya jawab, “Kayaknya belum itu, tapi sudah saya buat draftnya.” Sekretaris bilang, “Ya sudah, kirim saja ndak perlu diperiksa lagi.” Lalu saya beritahu, yang sebenarnya, bahwa tadi saya coba kirim tapi gagal. Lalu sekretaris melihat kelayar computer dan bertanya, “Memangnya tadi tulis apa, Bang. disini (kolom TO)?” Saya jawab sambil menunjuk pada kedua kartu nama tersebut, “Ya nama Presidr dan Dir-nya.” Sekretaris tersebut lalu tertawa keras dan panjang kemudian mencibir. Akhirnya semua orang di kantor pada ngeliatin dan bertanya ada apa. “Ini Bang Paus tidak ngerti kirim e-mail, ketinggalam jaman”, kata sekretaris tersebut. Semua karyawan mentertawakan saya. Lalu sekretaris menunjuk alamat e-mail pada dua kartu nama tersebut. “Kirimnya kesini Bang” kata sekretarisnya.
Berhubung malu karena kejadian itu saya lalu mulai aktif menggunakan Internet baik untuk korespondensi, untuk belajar hak cipta, sesuai pekerjaan saya, dan belajar hukum Eropa, sesuai minat saya.
Sebenarnya, saya sudah diperkenalkan kepada Internet, karena ketidaktahuan juga, pada waktu kampanye pemilu pada tahun 1999. Suatu pagi, Bapak Rachmat Witoelar, waktu itu Sekretaris Jenderal Barisan Nasional, mungkin lagi BT di kantor, mengajak saya ngobrol. Kami berdua ngobrol di ruangannya. Beliau lalu bercerita kepada saya tentang banyak hal tentang kehidupan, politik Indonesia, dan perkembangan di Rusia. Maklum beliau adalah mantan Duta Besar RI di Rusia. Pada waktu beliau cerita tentang perkembangan politik di Rusia, tiba-tiba saya tanya soal informasinya, apakah beliau masih sering kontak dengan orang-orang di Rusia melalui telepon atau dengar radio. Soalnya apa yang diceritakan oleh beliau actual dan tidak ada di Koran-koran di Indonesia. Lalu beliau bilang “Lho, kan ada di Internet.” Lalu beliau mengakses Intenet dan menunjukkan kepada saya sumber beritanya. “Sekarang enak, Paus,” kata beliau. Ada Internet tinggal akses lalu print dan dibaca. Beliau langsung memprint berita-berita dimaksud dan menyerahkan kepada saya.
Lalu Pak Rachmat bertanya, “kamu tahu Intenet ndak?”. Saya jawab, “Pernah dengar tapi tidak tahu apa itu”. Pak Rachmat bilang, “Wah kamu ketinggalan ini.”

Belenggu

Rasanya seperti di tahanan. Hanya berputar-putar dalam ruangan. Tidak dapat pergi ke mana-mana. Bahkan ke luar pintupun tidak dapat. Sudah lama hal ini terjadi. Hanya dalam keadaan-keadaan yang tidak bisa dihindarkan aku dapat mengatasinya.

Suara-suara berdengung terus di telinga. Entah suara apa, tapi saya pikir seperti suara kunang-kunang di tengah ladang ketika senja tiba (kalau dalam bahasa Batak "Sese di balian". Terkadang suara ini menggumpal, memberat dan bertambah berat, lalu memukul kepalaku. Kalau kondisi ini terjadi maka sakitnya tidak ampun-ampun. Saya mulai mengalami hal ini sekitar pertengahan 2006. Pada awal-awalnya hal ini terjadi menjelang tidur. Suara-suara itu begitu berat dan memukul dengan telak. Pada tahun 2006 itu, aku tidak dapat tidur di malam hari. Aku dapat tidur kalau matahari ada dan oleh karenanya aku harus tidur dekat pintu supaya matahari dapat menerpaku waktu tidur. Sampai akhirnya suatu malam aku menemukan sendiri penangkalnya, secara kebetulan. Kalau kugunakan penangkal itu, suara-suara itu membelok dan tidak memukulku. Tetapi suara-suara berdengung itu sampai sekarang tidak hilang. Sayangnya aku merasa kurang nyaman dengan penyangkalnya itu. Kecuali kalau sudah sangat mengancam barulah aku menggunakannya.

Sampai sekarang hal itu masih terjadi, tetapi tidak sesakit pada awalnya. Lama-lama aku berusaha menikmati setiap pukulan di kepalaku dan kadang berhasil menahan rasa sakit itu. Sekarang hal itu ditambah lagi dengan adanya tekanan-tekanan di sekitar pelupuk mataku. Tidak terlalu sakit tetapi sangat tidak mengenakkan. Kalau hendak pergi dari rumah, seperti ada yang menahan. Dan banyak hari-hariku hanya berputar dalam rumah. Segalanya bertambah kelam.

Kapankah belenggu ini enyah....