Terkadang saya pikir sadis juga
Pastor-pastor itu. Dalam perayaan ekaristi hanya Para Pastor yang makan lengkap,
ada makanan (Roti atau Hosti) dan ada minuman
(Anggur) perlambang Tubuh dan Darah Kristus. Malangnya kepada jemaat hanya
diberikan komuni hanya makanan (Roti
atau Hosti) tetapi tidak diberi minum (Anggur).
Perayaan Ekaristi itu untuk mengenangkan
Jesus. Perayaan mana diamanatkan oleh Jesus pada malam sebelum Dia dikhianati
yaitu yang kemudian diperingati sebagai Kamis Putih. Bagi jemaat tentu kenangan
akan Jesus itu tidak sempurna karena Jemaat hanya menyantap Tubuh Kritus tetapi
tidak meminum Darah Kristus. Saya pikir iman Jemaatpun dapat kesedak (apporotan)
karena menikmati makanan rohani tetapi tidak ada minuman rohaninya. Yang
namanya makan harus ada minum. Jadi yang mengenangkan Jesus, sebagaimana
diamanatkan oleh Jesus, hanyalah
Pastor-pastor itu (dan para Pro Diakon) saja.
Jemaat hanya sekedar menjadi penonton dan sebagai upah datang menonton, jemaat diberikan
Roti yang ukurannya jauh lebih kecil dari yang dinikmati Pastor-pastor itu. Kalau Uskup yang memimpin Perayaan Ekaristi,
Rotinya jauh lebih besar dan Roti untuk jemaat tetap ukurannya yang kecil.
Kehadiran Virus Corona yang
memaksa adanya Physical Distancing telah menghadirkan keadaan baru dimana
Perayaan Ekaristi dilakukan Live Streaming. Dalam suasana ini tentu jemaat pada
umumnya malah benar-benar hanya menonton Pastor-pastor itu mengenangkan Jesus.
Pastor-pastorpun menjadi seperti selebriti. Tidak ada komuni bagi jemaat. Saya membaca di Twitter
ada Pastor yang menyebutkan istilah “Komuni Batin”. Saya tidak dapat mencerna makna
dari “Komuni Batin” itu. Namun demikian, “Eme namasak digagat ursa/aha namasa
ima diula”. Kalau lagi masanya live streaming ya live streaming.
Perayaan Paskah terlihat remang-remang.
Saya yakin dulu Jesus tidak pernah terpikir akan ada Virus Corona.
Kristus bangkit Kristus Mulia.
Selamat Paskah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar