Suatu siang pada awal 2000, saya tidak ingat tanggal persisnya, saya diminta oleh pimpinan saya, melalui sekretaris, untuk menulis sebuah pesan e-mail kepada pimpinan dari perusahaan software terkemuka di Jakarta. Waktu itu saya baru bekerja beberapa hari dalam organisasi tersebut sebagai bagian legal. Nama organisasi itu adalah Masyarakat Anti Hak Cipta dan Pornografi Indonesia (MAPPI).
Sekretaris meminta untuk menyusun draft sudah langsung pada compose pada hotmail dan kalau sudah supaya langsung saja dikirimkan. Sekretaris memberikan kepada saya kartu nama dari Presiden Direktur dan satu direktur yang lain. Saya lalu menuliskan draft dan menyelesaikannya. Pada kolom To (alamat tujuan) saya langsung tulis nama Presiden Direktur dan Direktur perusahaan itu sesuai yang tertulis dalam kartu nama masing-masing. Ternyata kemudian beberapa template hotmail berubah ada banyak warna merah setelah sya klik pada “Send”. Saya tidak mengerti apa yang harus saya lakukan. Perasaan saya, pesan yang dimaksudkan tidak terkirim.
Berhubung tidak mengerti dan agak gengsi bertanya pada orang-orang lain di kantor, saya mengerjakan pekerjaan saya yang lain. Barulah pada waktu mau pulang kerja saya melihat sekretaris, dan sekretaris tersebut bertanya “Sudah jadi dikirim ke Pak Richard, Bang?” Lalu saya jawab, “Kayaknya belum itu, tapi sudah saya buat draftnya.” Sekretaris bilang, “Ya sudah, kirim saja ndak perlu diperiksa lagi.” Lalu saya beritahu, yang sebenarnya, bahwa tadi saya coba kirim tapi gagal. Lalu sekretaris melihat kelayar computer dan bertanya, “Memangnya tadi tulis apa, Bang. disini (kolom TO)?” Saya jawab sambil menunjuk pada kedua kartu nama tersebut, “Ya nama Presidr dan Dir-nya.” Sekretaris tersebut lalu tertawa keras dan panjang kemudian mencibir. Akhirnya semua orang di kantor pada ngeliatin dan bertanya ada apa. “Ini Bang Paus tidak ngerti kirim e-mail, ketinggalam jaman”, kata sekretaris tersebut. Semua karyawan mentertawakan saya. Lalu sekretaris menunjuk alamat e-mail pada dua kartu nama tersebut. “Kirimnya kesini Bang” kata sekretarisnya.
Berhubung malu karena kejadian itu saya lalu mulai aktif menggunakan Internet baik untuk korespondensi, untuk belajar hak cipta, sesuai pekerjaan saya, dan belajar hukum Eropa, sesuai minat saya.
Sebenarnya, saya sudah diperkenalkan kepada Internet, karena ketidaktahuan juga, pada waktu kampanye pemilu pada tahun 1999. Suatu pagi, Bapak Rachmat Witoelar, waktu itu Sekretaris Jenderal Barisan Nasional, mungkin lagi BT di kantor, mengajak saya ngobrol. Kami berdua ngobrol di ruangannya. Beliau lalu bercerita kepada saya tentang banyak hal tentang kehidupan, politik Indonesia, dan perkembangan di Rusia. Maklum beliau adalah mantan Duta Besar RI di Rusia. Pada waktu beliau cerita tentang perkembangan politik di Rusia, tiba-tiba saya tanya soal informasinya, apakah beliau masih sering kontak dengan orang-orang di Rusia melalui telepon atau dengar radio. Soalnya apa yang diceritakan oleh beliau actual dan tidak ada di Koran-koran di Indonesia. Lalu beliau bilang “Lho, kan ada di Internet.” Lalu beliau mengakses Intenet dan menunjukkan kepada saya sumber beritanya. “Sekarang enak, Paus,” kata beliau. Ada Internet tinggal akses lalu print dan dibaca. Beliau langsung memprint berita-berita dimaksud dan menyerahkan kepada saya.
Lalu Pak Rachmat bertanya, “kamu tahu Intenet ndak?”. Saya jawab, “Pernah dengar tapi tidak tahu apa itu”. Pak Rachmat bilang, “Wah kamu ketinggalan ini.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar